Halo user!

Polling

Apakah Anda merupakan salah satu orang yang hobi membeli rumah?
Reload

Enter the code

Simulasi KPR

Penginapan Rumah Turi – Solo Ramah Lingkungan & Berbudaya

Diposkan tgl 16 September 2016
Jendela, VOLUME I | EDISI 09 | FEBRUARI 2013

jendela_09_1Kota Solo sebagai kota terbesar kedua di Jawa Tengah semakin mengalami perkembangan yang signifikan. Nilai-nilai budaya yang masih dijunjung tinggi serta keadaan kota yang masih tenang dan tidak terlalu macet dibandingkan kota-kota besar lainnya, menjadikan kota budaya ini menjadi incaran dan tujuan para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berlibur atau sekedar melepas penat dari rutinitas sehari-hari. Kedatangan para pelancong dan pencari hiburan ini dibarengi juga dengan pertumbuhan penginapan yang begitu pesat dengan menawarkan beberapa kelas, dari melati hingga berbintang diikuti dengan berbagai fasilitas yang ‘wow’. Pemenuhan akan akomodasi ini harus dipenuhi sebagai salah satu syarat kota pariwisata. Ketenangan dan kenyamanan serta mudahnya akses dalam menjangkau berbagai tempat tujuan wisata biasanya paling banyak dicari oleh wisatawan.

Hadir dengan konsep ecogreen dan recycle membuat Rumah Turi nampak berbeda. Tampil dengan nuansa hijau yang natural dan mengedepankan kekeluargaan antara pegawai hotel dan pengunjung membuat setiap orang merasa betah dan nyaman, berasa di rumah sendiri, seperti jargon yang diusungnya ‘Rumah Turi — your at home’. Hal ini juga diaminin oleh Kris Harmanto selaku General Manager dari Rumah Turi, “Kami menekankan konsep kekeluargaan kepada para pegawai dalam melayani pengunjung agar pengunjung merasa betah seperti di rumah sendiri. Misalnya saja penggunaan sandal oleh para pegawai sehingga para pengunjung merasa tidak kaku.” Selain itu Kris juga menambahkan penamaan Rumah Turi itu adalah penginapan yang senyaman rumah yang berada di Turi. Rumah Turi berdiri pada 30 Juni 2008 yang beralamat di Jalan Sri Gading 2 No. 12 Turisari, Solo, Jawa Tengah.

Sesuai dengan konsep ecogreen dan recycle yang diusung, pada proses pembangunannya tidak ada bahan dari pembongkaran lama yang dibuang begitu saja. Genteng yang masih bisa dipakai digunakan lagi pada bangunan yang baru. Pecahan batu bata dan genteng yang yang rusak dilebur dan hasil leburan tersebut digunakan sebagai pelapis dinding di restoran. “Restoran ini merupakan rumah induk dari bangunan lama. Dinding-dindingnya terbuat dari leburan bata dan genteng yang rusak. Jadi, dinding ini tidak memerlukan pewarnaan lebih lanjut (cat) karena warnanya alami dan takkan pudar,” terang Kris. Ia juga menambahkan tidak ada pemotongan pohon pada proses pembangunan. Seperti pohon mangga yang memayungi sebagian besar restoran. Pihak owner lebih mengalahkan bangunan daripada menebang pohon. Sisa-sisa batu bata hasil pembangunan dijadikan perkerasan pada bagian selasar dan jendela_09_2depan bangunan. Di sela-sela perkerasan tersebut diselingi dengan rumput dan beberapa lubang biopori sebagai peresapan air tanah. Nampak dari luar, Rumah Turi kelihatan begitu hijau dan asri dengan banyaknya tanaman yang menghiasi setiap sudut bangunan. Beberapa besi bangunan yang ditata berjejer rapi ke atas digunakan sebagai tempat menaruh pot gantung sehingga dapat memuat banyak dan menghemat ruang (vertical garden). Pada bagian bawah dudukan besi dipasangi track ball sehingga tempat pot gantung ini dapat dipindahkan dan digeser bila diperlukan. Tak ada tempat kosong yang dibiarkan tanpa tanaman di Rumah Turi ini, termasuk atap teras yang menjorok ke luar. Atap teras ini ditanami rumput sehingga timbul kesan adem di bawahnya.

Tidak ada yang dibuang percuma di penginapan ini termasuk air limbah. Air limbah sisa mandi dan aktivitas para tamu di daur ulang kembali. Air limbah tersebut dialirkan ke dalam biofill (alat yang mengubah kotoran menjadi air). Air olahan biofill tersebut kemudian disalurkan ke kolam yang berada tepat di belakang resto. Di kolam tersebut ditanam tanaman rumput-rumputan sejenis akar wangi yang berfungsi sebagai penyerap logam berat. Di bawah kolam tersebut masih ada lapisan ijuk, kerikil pasir sebagai penjernih alami. Air serapan yang telah bersih ditampung dalam sebuah kolam yang berbeda yang berisi ikan. Ikan itu digunakan sebagai parameter jernih dan sehatnya air. Bila ikan mati maka air tersebut tidak sehat. Air dalam kolam tampungan tersebut mengalami proses airisasi terus menerus dengan dimanfaatkan sebagai air terjun sehingga kandungan oksigennya tinggi. Selain sebagai airisasi, air terjun tersebut juga difungsikan sebagai pembangkit suasana dan mempercantik tampilan bangunan juga menambah oksigen di lingkungan hotel. Gemuruh dan derai gemericik air membawa ketenangan. “Air daur ulang tersebut digunakan untuk membuat hujan buatan sekaligus untuk menyirami tanaman. Hujan buatan ini untuk mengatur suhu di lingkungan hotel dan meredam udara panas,” beber Dian Ariffianto Budi Susilo, Arsitek Rumah Turi. Lebih lanjut Kris Harmanto menambahkan, ”Air daur ulang tersebut hanya kita gunakan untuk menyirami tanaman. Untuk mandi para pengunjung dan kebutuhan lainnya, kita menggunakan air bersih dari bawah tanah.”

Penghematan energi juga dilakukan oleh hotel yang mempunyai luas 847 m² ini. Penghematan tersebut berupa penggunaan lampu LED di semua lampu yang terdapat di lingkungan hotel. Setiap lampu LED ini mempunyai daya 0,2 watt. Penghematan energi juga dilakukan dengan memanfatkan sinar matahari jendela_09_3sebagai pemanas air. “Memang untuk invest awal agak mahal tapi setelah itu pengeluaran untuk listrik dapat ditekan hingga 40 %,” papar Dian. Penggunaan lampu LED juga diaplikasikan pada ruang resto. Anda jangan salah sangka bila bohlam yang berderet itu mempunyai energi yang besar. Bohlam itu merupakan bohlam bekas yang diambil ‘cangkangnya’ saja. Di dalamnya dipasangi lampu LED sehingga ketika malam menjelang, deretan lampu bohlam tersebut memancarkan pijar yang menimbulkan kesan artistik. Meja dan kursi yang terdapat di resto juga merupakan limbah industri dan sisa ekspor sehingga Anda tidak akan menemukan kursi dan meja yang seragam. Penggunaan limbah industri juga diterapkan pada parquet yang melapisi setiap alas kamar. Kayu sisa limbah juga dipakai untuk membuat rak buku yang terdapat di resto. Selain menyantap makanan, Anda juga sekaligus dapat menambah wawasan. Pada bagian belakang resto terdapat dua jendela besar yang menggantung di bagian atap. Jendela ini berfungsi sebagai bukaan sehingga tidak perlu menggunakan penghawaan buatan.

Hotel ini terdiri dari 2 lantai. Pada bagian atas terdapat selasar dengan berbagai tanaman di pinggirannya. Tanaman yang terdapat di lantai 2 ini merupakan tanaman produksi seperti sereh. Selasar ini juga menghubungkan dengan atap resto yang dimanfaatkan sebagai tempat membudidayakan tanaman. Tanaman merambat markisa yang sedang berbuah menjalar memenuhi pinggiran selasar dan atapnya. Untuk menuju ke atap restoran, selasar ini melewati air terjun buatan dan kita dapat merasakan dinginnya tampias air dari percikan air terjun tersebut. Walau pinggiran selasar terbuat dari kayu, Anda jangan khawatir, alas selasar terbuat dari besi sehingga akan kuat menopang berat tubuh kita. Sebuah bangunan mirip dengan rumah kecil yang terbuat dari besi terdapat di bagian atap restoran yang dilapisi kayu sebagai alasnya. Beberapa tanaman adenium yang sedang kuncup merah memberi warna beda terhadap atap yang didominasi hijaunya dedaunan.

Rumah Turi memiliki 18 kamar yang terdiri dari 8 kamar Sereh (standard), 8 kamar Wuni (deluxe), dan 2 kamar Kemuning (Suite). Kamar Sereh mempunyai luas 21 m² yang terdiri dari twin bed maupun single bed tergantung keinginan pengunjung. Untuk kamar yang single bed, sebuah tempat tidur berukuran sedang terdapat di pojok ruangan dengan diapit meja kecil di kanan-kirinya. Sebuah lampu tidur dari kayu dengan kap lampu terbuat dari anyaman bambu terletak di kedua sisinya. Dinding sebagai sandaran tempat tidur terbuat dari kayu bekas bantalan rel kereta api dengan beberapa lubang bekas tempat mengunci baut rel. Lukisan bergambar ikan dalam bingkisan pigura menempel manis pada dinding kayu tersebut. Uniknya, beberapa pintu kamar di Rumah Turi ini merupakan pintu sisa gempa yang melanda Bantul, DIY pada tahun 2006 silam. Sedangkan Kamar Wuni mempunyai luas 21 m² dengan twin bed. Sebuah meja kecil yang di atasnya terdapat lampu tidur dengan kap memanjang ke atas memisahkan kedua tempat tidur tersebut. Setengah dinding yang menempel di tempat tidur dibalut dengan parquet kayu sebagai sandaran. Sebuah lukisan bergambar buah-buahan menambah segar suasana. Sebuah taman kecil terdapat di ruang Wuni ini. Tanaman bambu menyeruak tinggi menjulang di hamparan batuan putih. Taman ini dipisahkan dengan jendela kaca besar yang menyambung dengan pintu geser kaca.

jendela_09_4Untuk kamar Kemuning mempunyai luas 26 m² dengan tempat tidur double bed. Di tengah-tengah tempat tidur yang dibalut seprei putih nampak melintang memanjang kain batik menimbulkan kesan etnik. Dua buah lampu tidur berbentuk botol yang terbuat dari keramik terdapat di kedua sisi tempat tidur. Tempat tidur ini menghadap langsung ke sebuah taman kecil yang terletak di seberang tempat tidur yang dipisahkan dengan kaca. Taman kecil itu juga ditumbuhi tanaman bambu yang menjulang ke atas tanpa penutup sehingga sirkulasi udara tetap lancar. Beberapa tanaman palem yang ditaruh di dalam pot menjadi pelengkap di taman yang berhamparkan batu-batuan kali tersebut. Sebuah pintu kaca geser menyekat antara area taman dengan kamar. Di samping pintu geser tersebut terdapat sebuah kursi yang memanjang layaknya sebuah bale-bale. Semua kamar di Rumah Turi dilengkapi juga dengan kamar mandi berupa shower (include air panas), AC, TV layar datar, Internet acces, kulkas dan mini bar, telephone, serta water boiler bila Anda ingin membuat kopi atau teh. Semua lantai di ketiga jenis kamar tersebut beralaskan parquet sehingga tetap membuat hangat kaki Anda. Untuk harga kamar, kamar Sereh dibandrol Rp. 770.000/malam, kamar Wuni dibandrol Rp. 880.000/malam, dan kamar Kemuning Rp. 1.250.000/malam. Rumah Turi ini sering dijadikan tempat berkumpul para mahasiswa dan mengedukasi para tamu akan pentingnya ecogreen. “Kami mencoba mengedukasi dan memberi inspirasi kepada para tamu, misalnya saja tentang tempat pot gantung (vertical garden) yang bisa dipindahkan. Banyak juga tamu yang meminta bibit tanaman tuk ditanam di rumahnya,” ujar Kris. Ingin menikmati suasana Kota Solo sekaligus menambah wawasan tentang ecogreen dan mendapatkan pelayanan kekeluargaan seperti di rumah sendiri? Singgah dan menginaplah di Rumah Turi. Ganang-Red —– Alamat : Jalan Sri Gading No.12, Turisari,Solo, Jawa Tengah Telp : +62 271 736606,+62 271 72003, +62 271 8063475,, Fax : +62 271 712928 — Email: rumahturi@yahoo.com — Web: www.rumahturi.com

Berita Lainnya

Iklan Foto

kavling_ siapbangun_gebang_1

KAVLING SIAP BANGUN LOKASI GEBANG, SLEMAN

Rp. 690.000.000,-

rumah_raihanproperty_sucen_1

RUMAH SIAP HUNI DI SUCEN, SLEMAN

Rp 365.000.000,-

rumah_shary_maguwoharjo_1

Rumah Di Utara Jogja Bay, Maguwoharjo, Sleman

Rp 700.000.000,-

Jpeg

Rumah Murah, Lengkap Siap Huni, Nyaman dan Strategis

Rp 475.000.000,-

rumah_tommy_condongcatur_1_new

3 Unit Rumah di Condongcatur, Sleman

Rp. 625.000.000,-

tanah_soni_rrutara_1

Tanah Di Tepi Ringroad Utara Jogja

Rp. 7.250.000,-/m2

rumah_kurahanresidence_1

Kurahan Residence, Utara Pasar Godean

Rp. 296.000.000,-

rumah_aris_balecatur_1

Rumah Baru Masih Gress di Balecatur

Rp. 320.000.000,-

Harga Perumahan

Kunjungi Juga

Twitter