Halo user!

Polling

Apakah Anda merupakan salah satu orang yang hobi membeli rumah?
Reload

Enter the code

Simulasi KPR

Romansa Kota Solo Tempo Dulu di Rumah Nenek

Diposkan tgl 23 September 2016
Santap, VOLUME III | EDISI 26 | JULI 2014

santap_26_2Setiap daerah memiliki budaya khas tersendiri. Tak terkecuali dengan kota Solo atau dapat disebut juga dengan Surakarta. Salah satu budaya yang masih eksis hingga kini adalah budaya Wedangan. Budaya Wedangan menyiratkan kesan kebersamaan, keakraban dan kesederhanaan. Karakter orang Solo yang gemar nongkrong sambil berkuliner menjadi ide awal dari pendirian Wedangan Rumah Nenek.

Konsep Wedangan lengkap dengan HIK (Hidangan Istimewa Kampung) sengaja dipilih pengelola Wedangan Rumah Nenek dengan alasan untuk mengangkat kembali budaya otentik kota Solo yaitu Wedangan dan HIK. “Dulu ada beberapa orang datang dan menawarkan konsep untuk menjadikan bangunan rumah ini sebagai kafe maupun coffee shop. Tetapi kami menolaknya dengan berbagai pertimbangan “, terang Alberto VY, owner Wedangan Rumah Nenek. Ditambahkan Berto, mayoritas orang yang datang ke Laweyan hanya untuk membeli batik lalu kemudian pergi ke tempat yang lain tanpa singgah sejenak terlebih dahulu. Hal ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Berto yang merupakan penduduk asli Laweyan. Untuk mengatasi hal tersebut, akhirnya Berto bersama partnernya Metta Dini berpikir untuk mendirikan usaha kuliner khas Solo.

Wedangan Rumah Nenek terletak di Jalan Sidoluhur 58 Laweyan, Solo. Kawasan Laweyan di Solo, Jawa Tengah dikenal oleh banyak orang sebagai kampung batik. Laweyan merupakan pusat dari pengrajin batik motif khas Solo seperti motif batik Sidomukti maupun Sidoluhur. Sebagai kawasan yang telah eksis sejak jaman kerajaan Pajang pada abad XIV, Laweyan dahulunya digunakan sebagai tempat pusat perdagangan pakaian. Laweyan sendiri berasal dari kata “lawe” yang berarti benang dari kapas yang dipintal.

santap_26_1Lokasi Wedangan Rumah Nenek berada di dalam sebuah rumah bergaya arsitektur tradisional kolonial abad ke 18 tepatnya tahun 1818. “ Rumah ini dulunya milik seorang juragan (pengusaha) saudagar batik di Laweyan dan rumah ini adalah satu-satunya rumah tradisional kolonial yang masih original di kawasan Laweyan”, ungkap Jonathan Kiki, Marketing Wedangan Rumah Nenek. Perubahan secara masif tidak dilakukan oleh pengelola Wedangan Rumah Nenek karena bagunan yang dipergunakan sebagai usaha bisnis kuliner ini termasuk dalam situs cagar budaya. Tidak ada pergantian ornamen maupun konstruksi bangunan sedikitpun. Hanya ada renovasi kecil berupa pengecatan ulang pada bagian depan serta perbaikan furnitur yang sudah rusak.

Secara arsitektural, bangunan Wedangan Rumah Nenek adalah bangunan Joglo Jawa dengan sentuhan kolonial. Bangunan Joglo memiliki konsep ruangan berupa Pendopo, Pringgitan, Omah/Ndalem (ruang utama), Senthong dan Gandhok. Dari fasad, kompleks bangunan Wedangan Rumah Nenek terlihat megah dan luas. Halaman depan yang lapang dipenuhi dengan berbagai tumbuhan hijau seperti palem dan sebuah pohon perindang. Pada sisi kiri bangunan Joglo kolonial Rumah Nenek terdapat halaman luas yang difungsikan sebagai tempat parkir kendaraan pengunjung.

Bagian depan terdapat sebuah pendopo berukuran 4 x 3 meter. Bagian pendopo lengkap dengan ukiran khas tradisional Solo dengan pola pedang berwarna abu-abu. Sesuai dengan filosofinya, pendopo ini bersifat sebagai tempat yang terbuka untuk menerima tamu umum tanpa dinding. Empat buah tiang kayu dengan tinggi 6 meter menopang bangunan pendopo ini. ”Bangunan pendopo ini menganut konsep perpaduan antara konsep pendopo Jawa dan Belanda. Pilar-pilar yang terdapat di kompleks Rumah Nenek ini adalah pilar gaya Belanda”, terang Kiki.

santap_26_3Pringgitan berfungsi sebagai ruang transisi antara Pendopo dengan ruang utama (Ndalem/Omah). Ruang Pringgitan dalam bangunan kompleks Wedangan Rumah Nenek ditopang oleh dua tiang kayu. Perpaduan ornamen tradisional Jawa dan Eropa terletak pada ornamen ruangan Pringgitan. Lantai ruang Pringgitan didominasi dengan tegel (keramik) motif batik dikombinasikan dengan lantai polos pada bagian pinggirnya. Ruang Pringgitan Wedangan Rumah Nenek terdiri dari beberapa meja dan kursi kayu. “Pada Pringgitan kita hanya menambahkan beberapa meja dan kursi untuk mengakomodasi kebutuhan pengunjung”, tandas Kiki. Plafon-plafon ruangan Pringgitan terbuat dari kayu-kayu yang disusun membujur dengan dilapisi dengan cat berwarna krem. Penerangan ruangan Pringgitan menggunakan dua lampu yang terpasang menempel di plafon sebelah kanan dan kiri. Pada sisi utara Pringgitan terdapat meja untuk menyajikan beberapa hidangan “HIK” khas Solo.

Masuk ke ruang utama (Ndalem/Omah) Wedangan Rumah Nenek , aura kemegahan dan kemewahan khas rumah bangsawan begitu terasa. Kemewahan dan kemegahan sudah tampak dari pintu dan jendela kayu yang dirancang besar dan panjang. Di atas pintu terdapat ornamen berbentuk ukiran khas Jawa sebagai simbol perpaduan Jawa dan Eropa. Balutan cat berwarna putih semakin menguatkan atmosfer kemegahan. Furnitur dan ornamen pada ruang utama ini tidak ada perubahan, semuanya sama seperti aslinya. Hanya ada perbaikan pada penjalin (rotan) kursi yang sudah usang”, ucap Berto.

Menurut filosofinya, ruangan utama (Ndalem/Omah) merupakan area private. Tidak semua orang diperbolehkan masuk ke dalam Omah. Dahulunya hanya dipergunakan untuk menerima tamu dari kalangan terbatas dan orang yang memiliki hubungan keluarga dengan pemilik. Hal yang menarik perhatian pada ruangan utama ini adalah pada lantai dan plafon. Selain material yang dipergunakan untuk lantai terdapat perbedaan level ketinggian yang berbeda pada ruangan utama ini. Level lantai rendah menggunakan tegel berwarna gelap dengan motif kelopak daun dipadukan dengan lantai persegi bertektur kasar. Untuk level lantai yang lebih tinggi menggunakan tegel persegi berwarna kuning kusam. Plafon pada ruang utama (Omah) bermotif ukiran-ukiran kecil khas Eropa dengan lapisan cat berwarna putih.

Pada Wedangan Rumah Nenek, tidak semua ruangan dalam rumah yang dipergunakan untuk menerima pengunjung. Senthong dan Krobongan tetap dijaga sesuai dengan aslinya. Senthong (kamar tidur) yang terdiri dari Senthong Tengen (kanan) dan Senthong Kiwo (kiri) tetap dibiarkan tertutup untuk pengunjung. Senthong Tengen (kanan) dipergunakan sebagai tempat tidur bagi penghuni rumah. Senthong Kiwo (kiri) berfungsi sebagai tempat untuk melakukan kegiatan ritual orang pada zaman dulu. Di tengah-tengah Senthong terdapat Krobongan. Krobongan merupakan area sakral dalam rumah tradisional Jawa. Ruangan ini dipersembahkan khusus untuk Dewi Sri (Dewi kesuburan dalam mitologi Jawa -red). Pada zaman dahulu Krobongan selain digunakan sebagai tempat tidur reguler penghuni rumah, sebagai tempat untuk menyimpan benih padi dan untuk tidur malam pertama pengantin. Di dalam Krobongan terdapat sebuah kamar tidur, lengkap dengan bantal guling dan dilengkapi dengan langse (tirai). Krobongan juga berarti sebagai simbol kesejahteraan.

Gandhok adalah ruangan yang dahulunya berfungsi sebagai tempat untuk membuat batik. Ruangan Gandhok pada Wedangan Rumah Nenek kini difungsikan sebagai ruang lesehan. Gandhok terdapat di sebelah kiri ruang utama. Lantai Gandhok terbuat dari material lantai bertekstur kasar berwarna hitam. Gandhok pada Wedangan Rumah Nenek terdapat di sisi kanan dan kiri. Masing-masing Gandhok dipisahkan dengan sebuah lantai yang berfungsi sebagai akses keluar masuk dari halaman depan ke dalam belakang rumah. “Gandhok merupakan area favorit bagi pengunjung anak muda”, kata Berto.

santap_26_4santap_26_5Sesuai dengan konsepnya, Wedangan Rumah Nenek menawarkan berbagai sajian menu khas HIK berupa berbagai macam sate, nasi kucing dengan berbagai variasi sambal dan makanan-makanan tradisional seperti jadah, krupuk karak dan lunpia. Sebagai pelengkap bersantap juga disediakan beraneka macam jenis gorengan. Selain hidangan khas HIK, resto yang mulai beroperasi pada bulan Oktober 2013 ini memiliki menu andalan berupa sop buntut. Kuah sop buntut yang gurih berpadu dengan daging buntut (ekor) sapi yang diolah dengan terampil oleh seorang chef menghasilkan daging yang empuk. Bagi penikmat makanan pedas, sop buntut dilengkapi dengan sambal kecap yang manis pedas.

Untuk minuman, Wedangan Rumah Nenek menyajikan tiga menu otentik yaitu Wedang Uwuh, JKJS dan Bengawan Solo. Wedang uwuh adalah minuman tradisional Jawa yang terbuat dari berbagai macam rempah-rempah seperti kayu manis, cengkeh, jahe, dan daun pala. Tampilannya yang merah merona dihasilkan dari serutan kayu secang kering tentunya menggoda lidah.

JKJS adalah menu kreasi dari Wedangan Rumah Nenek. JKJS adalah singkatan dari Jahe, Kencur, Jeruk dan Sereh. Perpaduan rasa rempah –rempah dengan buah jeruk menghasilkan minuman yang kaya dengan cita rasa tersendiri. Minuman otentik Wedangan Rumah Nenek lainnya adalah Bengawan Solo. Dari segi tampilan , bengawan Solo berwarna coklat pekat dengan bahan-bahan yang terdiri dari tape, jahe dan susu coklat. Bengawan Solo cocok disajikan panas maupun dingin untuk mengobati rasa dahaga Anda. Selain menu-menu andalan tersebut, Wedangan Rumah Nenek juga menawarkan menu makan siang berupa sop daging, bandeng segar, pecel lele dan nasi goreng.

Wedangan Rumah Nenek buka setiap hari pada pukul 10.00-24.00 WIB. Selain sebagai tempat kuliner, Resto dengan kapasitas 300 seat ini juga dapat dipergunakan sebagai tempat untuk menggelar berbagai acara seperti wedding party, fashion show maupun pertunjukan musik seperti jazzy night, acoustic night maupun pertunjukan teater.” Selain musik mancanegara , kami juga menggelar hiburan musik tradisional yang dimainkan oleh penduduk sekitar. Tertarik? Segera datang dan nikmati sensasi rumah sendiri di Wedangan Rumah Nenek. Dika-Red

Wedangan Rumah Nenek
Jl. Sidoluhur 58 Kampung Batik Laweyan Solo
Telp. 0271- 726279
Twitter: @Wed_RumahNenek

Berita Lainnya

Iklan Foto

kavling_ siapbangun_gebang_1

KAVLING SIAP BANGUN LOKASI GEBANG, SLEMAN

Rp. 690.000.000,-

rumah_raihanproperty_sucen_1

RUMAH SIAP HUNI DI SUCEN, SLEMAN

Rp 365.000.000,-

rumah_shary_maguwoharjo_1

Rumah Di Utara Jogja Bay, Maguwoharjo, Sleman

Rp 700.000.000,-

Jpeg

Rumah Murah, Lengkap Siap Huni, Nyaman dan Strategis

Rp 475.000.000,-

rumah_tommy_condongcatur_1_new

3 Unit Rumah di Condongcatur, Sleman

Rp. 625.000.000,-

tanah_soni_rrutara_1

Tanah Di Tepi Ringroad Utara Jogja

Rp. 7.250.000,-/m2

rumah_kurahanresidence_1

Kurahan Residence, Utara Pasar Godean

Rp. 296.000.000,-

rumah_aris_balecatur_1

Rumah Baru Masih Gress di Balecatur

Rp. 320.000.000,-

Harga Perumahan

Kunjungi Juga

Twitter